I.
Arsitektur Jaringan Komputer
Untuk
dapat dengan jelas mengerti mengenai keamanan jaringan komputer, kita harus
terlebih dahulu mengerti bagaimana jaringan komputer bekerja. Untuk mempermudah
pemeliharaan serta meningkatkan kompabilitas antar berbagai pihak yang mungkin
terlibat, jaringan komputer terbagi atas beberapa lapisan yang saling
independen satu dengan yang lainnya. Menurut standard ISO/OSI, lapisan-lapisan
dan tugas yang dimilikinya adalah :
• Layer 1 - Physical
Layer (lapisan)
ini berhubungan dengan kabel dan media fisik lainnya yang menghubungkan satu
peralatan jaringan komputer dengan peralatan jaringan komputer lainnya. Lapisan
ini juga berhubungan dengan sinyal-sinyal listrik, sinar maupun gelombang radio
yang digunakan untuk mengirimkan data. Pada lapisan ini juga dijelaskan
mengenai jarak terjauh yang mungkin
digunakan
oleh sebuah media fisik. Pada lapisan ini juga diantur bagaimana cara melakukan
collision control.
• Layer 2 - Data Link
Pada
sisi pengirim, lapisan ini mengatur bagaimana data yang akan dikirimkan diubah
menjadi deretan angka '1' dan '0' dan mengirimkannya ke media fisik. Sedangkan
pada sisi penerima, lapisan ini akan merubah deretan angka '1' dan '0' yang
diterima dari media fisik menjadi data yang lebih berarti. Pada lapisan ini
juga diatur bagaimana kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi ketika transmisi
data diperlakukan. Lapisan ini terbagi atas dua bagian, yaitu Media Access Control (MAC) yang mengatur bagaimana sebuah
peralatan dapat memiliki akses untuk mengirimkan data dan Logical Link Control (LLC) yang bertanggung jawab atas
sinkronisasi frame, flow control dan
pemeriksaan error. Pada
MAC terdapat metode-metode yang digunakan untuk menentukan siapa yang berhak
untuk melakukan pengiriman data. Pada dasarnya metode-metode itu dapat bersifat
terdistribusi (contoh: CSMA/CD atau CSMA/CA) dan bersifat terpusat (contoh:
token ring). Secara keseluruhan, lapisan Data Link bertanggung jawab terhadap koneksi dari satu
node ke node berikutnya dalam komunikasi data.
• Layer 3 - Network
Lapisan
Network bertanggung jawab terhadap koneksi dari
pengirim sampai dengan penerima. Lapisan ini akan menterjemahkan alamat lojik
sebuah host menjadi
sebuah alamat fisik. Lapisan ini juga bertanggung jawab untuk mengatur rute
yang akan dilalui sebuah paket yang dikirim agar dapat sampai pada tujuan. Jika
dibutuhkan penentuan jalur yang akan dilalui sebuah paket, maka sebuah router akan menentukan jalur 'terbaik' yang akan
dilalui paket tersebut. Pemilihan jalur atau rute ini dapat ditentukan secara
statik maupun secara dinamis.
• Layer 4 - Transport
Lapisan
ini bertanggung jawab untuk menyediakan koneksi yang bebas dari gangguan. Ada dua jenis komunikasi data jaringan komputer, yaitu Connection Oriented dan Connectionless. Pada jenis komunikasi Connection Oriented data dipastikan sampai tanpa ada gangguan
sedikitpun juga. Apabila ada gangguan, maka data akan dikirimkan kembali.
Sedangkan jenis komunikasi Connectionless,
tidak ada mekanisme untuk memastikan apabila data yang dikirim telah diterima
dengan baik oleh penerima. Biasanya lapisan ini mengubah layanan yang sangat
sederhana dari lapisan Network menjadi
sebuah layanan yang lebih lengkap bagi lapisan diatasnya. Misalnya, pada layer
ini disediakan fungsi kontrol transmisi yang tidak dimiliki oleh lapisan di
bawahnya.
• Layer 5 - Session
Lapisan
ini bertanggung jawab untuk membangun, memelihara dan memutuskan koneksi antar aplikasi.
Pada kenyataannya lapisan ini sering digabung dengan Application Layer.
• Layer 6 - Presentation
Agar
berbagai aplikasi jaringan komputer yang ada di dunia dapat saling terhubung,
seluruh aplikasi tersebut harus mempergunakan format data yang sama. Lapisan
ini bertanggung jawab atas bentuk format data yang akan digunakan dalam
melakukan komunikasi. Pada kenyataannya lapisan
ini sering pula digabung dengan Application Layer.
• Layer 7 - Application
Lapisan
ini adalah di mana interaksi dengan pengguna dilakukan. Pada lapisan inilah
semua jenis program jaringan komputer seperti browser dan email client berjalan. Pada implementasinya, lapisan
jaringan komputer berdasarkan ISO/OSI tidak digunakan karena terlalu kompleks
dan ada banyak duplikasi tugas dari setiap lapisan. Lapisan OSI/ISO digunakan
hanya sebagai referensi. Lapisan jaringan komputer yang banyak digunakan adalah
lapisan TCP/IP yang terdiri atas empat lapisan yaitu :
• Link (Lapisan OSI 1 dan 2)
Contoh
dari lapisan ini adalah Ethernet, Wi-Fi dan MPLS. Implementasi untuk lapisan
ini biasanya terletak pada device driver ataupun
chipset firmware.
• Internetwork (Lapisan OSI 3)
Seperti
halnya rancangan awal pada lapisan network (lapisan OSI 3), lapisan ini
bertanggungjawab atas sampainya sebuah paket ke tujuan melalui sebuah kelompok
jaringan komputer. Lapisan Internetwork pada TCP/IP memiliki tugas tambahan
yaitu mengatur bagaimana sebuah paket akan sampai tujuan melalui beberapa
kelompok jaringan komputer apabila dibutuhkan.
• Transport (Lapisan OSI 4 dan 5)
Contoh
dari lapisan ini adalah TCP, UDP dan RTP
• Applications (Lapisan OSI 5 sampai dengan 7)
Contoh
dari lapisan ini adalah HTTP, FTP dan DNS.
Oleh
sebab setiap lapisan memiliki tugas yang independen dari lapisan-lapisan
lainnya, maka transparansi data akan terjamin. Sebagai contoh, semua jenis browser internet akan tetap digunakan, sekalipun media
fisik yang digunakan berubah dari kabel tembaga menjadi sinyal radio misalnya.
II.
Tipe-tipe proteksi jaringan komputer
Dikarenakan perbedaan fungsi dalam setiap lapisan
jaringan komputer, maka perlindungan yang dapat dilakukan juga berbeda-beda.
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai perlindungan terhadap jaringan komputer
yang bisa dilakukan pada setiap lapisan jaringan komputer, mulai dari lapisan
terbawah
sampai
dengan lapisan teratas.
– Layer 2
Dalam usaha mengamankan sebuah gedung, tahap yang paling
mendasar adalah dengan menjaga titik akses ke gedung tersebut. Begitu juga
dengan pengamanan jaringan komputer, tahap paling mendasar adalah menjaga titik
akses yang dapat digunakan seseorang untuk terhubung ke dalam jaringan. Pada
umumnya, titik akses jaringan komputer adalah berupa hub atau switch. Dengan berkembangnya
wireless network, maka peralatan wireless access-point juga termasuk dalam titik akses jaringan yang
perlu untuk dilindungi.
Saat ini ada dua mekanisme umum yang biasa digunakan dalam
mengamankan titik akses ke jaringan komputer, yaitu :
– Protokol 802.1x
Protokol 802.1x adalah sebuah protokol yang dapat
melakukan otentikasi pengguna dari peralatan yang akan melakukan hubungan ke
sebuah titik-akses. Dengan protokol ini, ketika sebuah komputer melakukan
hubungan ke sebuah titik-akses (hub atau switch), maka pengguna komputer tersebut perlu
melakukan otentikasi sebelum komputer tersebut terhubung ke jaringan komputer. Protokol
ini sangat berguna untuk melindungi jaringan komputer sekaligus meng-akomodasi pengguna-pengguna
yang memiliki peralatan atau komputer yang bersifat mobile seperti notebook atau PDA. Dengan digunakannya protokol ini,
dapat dijamin bahwa peralatan komputer yang berusaha melakukan akses ke
jaringan komputer sedang dipergunakan oleh pihak yang memang telah diizinkan
untuk melakukan akses. Tiga komponen yang terlibat dalam protokol ini adalah
peralatan yang akan melakukan akses
(supplicant), server yang akan melakukan otentikasi
(server RADIUS) dan peralatan yang menjadi titik akses (otentikator). Secara
umum, tahapan-tahapan dalam protokol ini adalah:
1. Secara
default akses ke jaringan tertutup.
2. Sebuah supplicant melakukan akses dan meminta izin akses ke otentikator,
yang kemudian meneruskannya ke server otentikasi.
3. Server
otentikasi menjawab dengan memberikan 'tantangan' ke supplicant melalui otentikator.
4. Melalui
otentikator, supplicant menjawab
'tantangan' yang diberikan.
5. Apabila
jawaban yang diberikan supplicant benar,
server otentikasi akan memberitahu ke otentikator yang kemudian akan memberikan
akses jaringan ke supplicant.
6. Akses
jaringan yang sudah terbuka, akan tetap terbuka sampai ketika terjadi perubahan
status koneksi, misalnya koneksi diputus oleh pengguna atau alat yang terhubung
berubah. Ketika terjadi perubahan status, akses akan kembali ditutup dan proses
otentikasi akan berulang kembali.
Pada
perkembangannya, protokol ini digunakan secara lebih mendalam, bukan hanya
untuk melakukan otentikasi terhadap pengguna peralatan yang melakukan akses,
melainkan juga akan digunakan untuk memeriksa apakah konfigurasi peralatan yang
melakukan akses sudah sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Misalkan akan
dilakukan pemeriksaan apakah program antivirus yang berjalan pada sebuah notebook yang akan melakukan koneksi sudah mempergunakan
versi yang terbaru, jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka akses jaringan tidak
akan diberikan. Selain itu protokol ini juga dapat digunakan untuk menegakkan
sebuah kebijakan pada peralatan-peralatan yang akan melakukan akses jaringan
komputer. Kelemahan dari protokol ini adalah, protokol ini harus
diimplementasikan satu per satu pada semua switch/hub yang menjadi titik akses jaringan komputer.
– Mac Address
Mac Address Authentication adalah
sebuah mekanisme di mana sebuah peralatan yang akan melakukan akses pada sebuah
titik-akses sudah terdaftar terlebih dahulu. Berbeda dengan protokol 802.1x
yang memastikan bahwa alat yang melakukan koneksi dipergunakan oleh pihak yang
berwenang, metode ini untuk memastikan apakah peralatan yang akan melakukan
akses adalah peralatan yang berhak untuk akses tanpa mempedulikan siapa yang
mempergunakannya. Pada
setiap peralatan jaringan komputer terdapat sebuah identitas yang unik.
Berdasarkan identitas tersebutlah metode ini melakukan otentikasi. Pada setiap
paket data yang dikirimkan sebuah peralatan akan mengandung informasi mengenai
identitas peralatan tersebut, yang akan dibandingkan dengan daftar akses yang
dimiliki setiap titik-akses, apabila ternyata identitas peralatan terdapat dalam
daftar, paket yang dikirimkannya akan diteruskan apabila tidak, makapaket yang
dikirimkannya tidak akan diteruskan. Keuntungan metode ini jika dibandingkan
dengan protokol 802.1x adalah metode ini sudah lebih banyak diimplementasikan
pada switch/hub yang
sering digunakan sebagai titik akses. Selain itu, untuk mempergunakan metode
ini, tidak perlu semua switch/hub melakukan
filtering, namun cukup switch/hub utama saja yang melakukannya. Kelemahan utama
dari metode ini adalah seseorang dapat dengan mudah memanipulasi identitas unik
pada peralatan yang digunakannya, sehingga peralatan tersebut dapat melakukan akses
ke sebuah jaringan komputer. Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga
integritas daftar identitas peralatan yang dapat melakukan akses ke jaringan.
Selain
kedua protokol otentikasi yang telah disebutkan di atas, ada sebuah metode
keamanan yang terletak pada lapisan Data Link tapi tidak berfungsi untuk melakukan
otentikasi penggunaan titik-akses jaringan komputer, melainkan untuk melindungi
data yang dikirimkan pada jaringan komputer tersebut.
Metode
tersebut adalah:
– WEP dan WPA
Perkembangan teknologi telah membuat transmisi data
melalui media gelombang radio memiliki kualitas yang hampir sama dengan
kualitas transmisi data melalui media kabel. Dengan mempegunakan wireless network, koneksi ke sebuah jaringan komputer menjadi
sangat mudah karena tidak lagi terhambat oleh penggunaan kabel. Asalkan sebuah
peralatan jaringan komputer masih dalam jangkauan gelombang radio komputer
penyedia jaringan, peralatan tersebut dapat terhubung ke dalam jaringan
komputer. Akan tetapi, penggunaan media gelombang radio untuk transmisi data
memiliki berbagai permasalahan keamanan yang cukup serius. Sifat gelombang
radio yang menyebar menyebabkan siapa saja yang berada pada jangkauan gelombang
radio yang digunakan untuk komunikasi data dapat mencuri data yang dikirimkan
oleh sebuah pihak ke pihak lain dengan mudah. Oleh karena itu dikembangkan
metode yang disebut dengan Wired Equivalent Privacy (WEP).
Tujuan utama dari WEP adalah berusaha untuk memberikan tingkat privasi yang
diberikan oleh penggunaan jaringan berbasiskan kabel. Dalam melakukan usaha
itu, WEP akan melakukan enkripsi terhadap data-data yang dikirimkan antara dua
peralatan jaringan komputer berbasiskan gelombang radio, sehingga data yang
dikirimkan tidak dapat dicuri oleh pihak lain. Untuk ini, WEP mempergunakan
algoritma stream-cipher RC4
untuk menjaga kerahasiaan data dan CRC-32 sebagai kontrol integritas data yang
dikirimkan. Oleh karena ada peraturan pembatasan ekspor teknologi enkripsi oleh
pemerintah Amerika Serikat, maka pada awalnya panjang kunci yang dipergunakan
hanyalah sepanjang 40 bit. Setelah peraturan tersebut dicabut, maka kunci yang
digunakan adalah sepanjang 104 bit. Beberapa analis menemukan bahwa WEP tidak
aman dan seseorang dapat dengan mudah menemukan kunci yang digunakan setelah
melakukan analisa paket terenkripsi yang dia dapatkan. Oleh karena itu pada
tahun 2003 dibuat standar baru yaitu Wi-Fi Protected Access (WPA). Perbedaan antara WEP dengan WPA adalah
penggunaan protokol 802.1x untuk melakukan distribusi kunci yang digunakan
dalam melakukan proses enkripsi dan dekripsi. Selain itu panjang kunci yang
digunakan juga bertambah panjang menjadi 128 bit sehingga menambah tingkat kesulitan
dalam menebak kunci yang digunakan. Selain itu untuk meningkatkan keamanan,
juga dibuat sebuah sistem yang disebut dengan Temporal Key Integrity Control yang akan melakukan perubahan kunci secara
dinamis selama sistem sedang digunakan. Pada perkembangan selanjutnya, yaitu
pada tahun 2004 dibuat standard WPA2, dimana algoritma RC4 digantikan oleh
algoritma enkripsi baru yaitu Advance Encryption System (AES)
dengan panjang kunci sepanjang 256 bit.
– Layer 3
Pada lapisan ini, untuk membedakan sebuah peralatan
jaringan komputer dengan peralatan jaringan komputer yang lainnya, digunakan
alamat IP (Internet Protocol).
Semua peralatan komputer aktif harus memiliki sebuah nomor IP unik yang akan
menjadi identitasnya di jaringan komputer. Alamat IP yang saat ini banyak
digunakan disebut dengan IPv4, yaitu sebuah deretan angka dengan format : x.x.x.x
di
mana x adalah angka antara 0 sampai dengan 255. Saat ini sedang dalam tahap
pengembangan versi baru dari alamat IP yang disebut dengan IPv6. Selain alamat
IP, pada lapisan ini juga dikenal istilah Port, yaitu sebuah pintu masuk ke dalam sebuah
sistem komputer. Pada pintu inilah aplikasi jaringan
komputer
yang sedang berjalan dalam sebuah komputer menerima melakukan koneksi dengan
pihak lain. Pada lapisan ini, metode perlindungan jaringan komputer akan
berdasarkan pada alamat IP dan Port. Pada
setiap paket data yang dikirimkan oleh sebuah peralatan jaringan komputer ke
peralatan lainnya akan mengandung alamat IP dan Port yang digunakan oleh pengirim serta alamat IP
dan Port dari
tujuan paket tersebut. Sebuah sistem pengamanan yang biasanya dikenal dengan
nama firewall dapat
melakukan filtering berdasarkan
kedua hal tersebut. Pada umumnya firewall diletakkan pada gerbang masuk maupun keluar
sebuah sistem jaringan komputer. Selain itu firewall juga dapat melakukan filtering berdasarakan protokol yang digunakan oleh
sebuah paket data, misalnya sebuah firewall dapat dirancang untuk menolak paket jenis udp
dan paket jenis icmp sementara mengizinkan paket jenis tcp. Pada perkembangannya,
firewall tidak hanya melakukan filtering berdasarkan
alamat IP dan Port, tapi
juga berdasarkan informasi lainnya yang tersedia dalam header sebuah paket IP. Sebagai contoh, sebuah firewall dapat melakukan filtering berdasarkan ukuran
data sebuah paket data. Sebuah firewall juga
bisa melakukan filtering berdasarkan
status koneksi antara dua peralatan jaringan komputer, misalnya sebuah firewall dapat dirancang untuk menolak sebuah paket
yang akan membuat sebuah koneksi baru dari sebuah alamat IP, tapi mengizinkan
paket-paket lainnya dari alamat IP tersebut. Untuk menambah keamanan sistem
jaringan komputer, saat ini sebagian besar firewall sudah bersifat statefull dan tidak lagi stateless. Pada statefull firewall, firewall akan membuat daftar sejarah status koneksi
antara satu peralatan jaringan komputer dengan peralatan jaringan komputer
lainnya. Hal ini untuk mencegah adanya penipuan status koneksi oleh sebuah
peralatan jaringan komputer untuk dapat melewati proses filtering sebuah firewall. Selain diimplementasikan pada gerbang masuk
atau gerbang keluar dari sebuah sistem jaringan komputer, firewall juga dapat diimplementasikan pada sebuah host. Ini berguna untuk melindungi host tersebut dari serangan yang berasal dari host lain yang berada pada jaringan komputer yang
sama. Pada umumnya, implementasi firewall adalah metoda pengamanan sistem jaringan
komputer yang pertama kali dilakukan. Walaupun cukup ampuh dan mudah untuk
diimplementasikan, tanpaperencanaan yang baik, implementasi firewall dapat menyebabkan sebuah firewall tersusun atas peraturan-peraturan filtering yang sangat banyak. Hal ini dapat membuat firewall tersebut menjadi sulit untuk dikelola karena
dengan banyaknya peraturan-peraturan filtering yang diimplementasikan akan lebih sulit untuk
melakukan penelusuran proses penyaringan paket. Selain itu, banyaknya peraturan
filtering yang terlalu banyak juga dapat menganggu
interaksi koneksi data jaringan komputer, karena semua paket yang lewat harus
melalui proses penyaringan yang sangat banyak.
– Layer 4 /5
Pada lapisan ini, metode pengamanan lebih difokuskan
dalam mengamankan data yang dikirimkan. Metode pengamanan yang banyak digunakan
adalah :
– VPN
Pada
banyak organisasi besar, organisasi tersebut memiliki kantor-kantor cabang yang
tersebar di banyak tempat. Kantor cabang-kantor cabang tersebut tentu memiliki
kebutuhan untuk saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Pada
masa-masa awal jaringan komputer, solusi yang biasa digunakan adalah dengan
membangun jaringan privat yang mengubungkan seluruh kantor cabang yang ada atau
yang biasa disebut dengan Wide Area Network (WAN).
Dengan berkembangnya jaringan Internet, solusi dengan membangun WAN, menjadi
solusi yang sangat mahal dan tidak fleksibel. Dengan berkembangnya Virtual Private Network, sebuah organisasi dapat membangun jaringan
privat maya diatas jaringan publik untuk menghubungkan seluruh kantor cabang
yang dimilikinya.
Kelebihan
implementasi VPN dibandingkan dengan implementasi WAN adalah:
- Mempermudah perluasan konektivitas jaringan komputer
secara geografis Untuk menghubungkan beberapa lokasi yang terpisah secara
geografis dapat mempergunakan jaringan publik (Internet) yang dimiliki oleh
masing-masing lokasi. Koneksi Internet yang digunakan oleh sebuah lokasi bisa
saja tidak menggunakan layanan dari service provider yang sama dengan koneksi Internet di lokasi
lainnya.
- Peningkatan keamanan data
Data yang dikirimkan akan terlindungi
sehingga tidak dapat dicuri oleh pihak lain karena data yang ditransmisikan
melalui VPN melalui proses enkripsi.
- Mengurangi biaya operasional
Dengan menggunakan VPN, setiap lokasi hanya
perlu memelihara satu buah koneksi Internet untuk seluruh kebutuhannya, baik
kebutuhan koneksi Internet maupun kebutuhan koneksi internal organisasi.
- Menyederhanakan Topologi jaringan
Pada dasarnya, VPN adalah perkembangan dari network tunneling. Dengan tunneling, dua kelompok jaringan komputer yang
terpisah oleh satu atau lebih kelompok jaringan komputer diantaranya dapat
disatukan, sehingga seolah-olah kedua kelompok jaringan komputer tersebut tidak
terpisah. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan enkapsulasi terhadap paket
jaringan yang dikirimkan. Tunneling ini
bersifat transparan bagi pengguna jaringan komputer di kedua sisi kelompok
jaringan komputer. Hanya router di
kedua sisi kelompok jaringan komputer yang melakukan proses enkapsulasi yang
mengetahui adanya tunnel tersebut.
Imbal baik dari proses tunneling adalah
Maximum Transfer
Unit (MTU) setiap paket yang
dikirim menjadi lebih kecil, karena diperlukan ruang tambahan untuk menambahkan
header IP hasil enkapsulasi paket yang dikirimkan.
Berkurangnya MTU dapat menyebabkan berkurangnya kecepatan transfer data antara
dua host yang
sedang berkomunikasi. Salah satu implementasi dari tunneling adalah mobile IP. Dengan mempergunakan mobile IP, seorang pengguna dapat selalu mempergunakan
alamat IP yang dia miliki dimanapun pengguna tersebut berada. Implementasi
lainnya adalah dengan menambahkan proses kompresi data yang akan dikirimkan
melalui tunnel yang
sudah dibuat. Dengan cara ini, makan dengan ukuran bandwidth yang sama, besar data yang dikirimkan dapat
lebih besar, sehingga meningkatkan kecepatan transfer data. Seluruh sifat dasar
dari network tunneling dimiliki
oleh VPN, ditambah dengan proses enkripsi dan dekripsi. Dengan menggunakan VPN,
seluruh data yang dikirimkan oleh sebuah pengguna jaringan komputer di sebuah
kelompok jaringan komputer ke kelompok jaringan komputer lainnya yang terhubung
dengan VPN akan melalui proses enkripsi, sehingga tidak dapat dibaca oleh
pihak-pihak lain yang berada pada jalur pengiriman data. Pada sisi penerima
data, secara otomatis, data akan melalui proses dekripsi sebelum disampaikan ke
pihak penerima. Sama dengan tunneling, proses
enkripsi dan dekripsi data terjadi secara transparan tanpa diketahui oleh
pengirim maupun penerima. VPN dapat mempergunakan berbagai macam algoritma enkripsi,
baik itu yang bertipe symmetric-key-encryption maupun
public-key-encryption. Kunci dari seluruh penggunaan VPN adalah
pada proses enkripsi dan dekripsi data, dan oleh karena itu, pemilihan
algoritma enkripsi menjadi sangat penting dalam implementasi VPN. Selain untuk
menghubungkan dua atau lebih lokasi kantor cabang, VPN juga banyak
digunakanuntuk mengakomodasi kebutuhan pekerja yang bekerja di luar kantor
untuk melakukan akses ke sumber daya yang tersedia pada jaringan internal
kantor. Hal ini dapat dilakukan dengan menganggap komputer yang digunakan oleh
seorang pekerja yang berada di luar kantor sebagai kantor cabang lain yang
sedang melakukan koneksi. Cara ini sangat mirip dengan konsep mobile IP yang sudah dijelaskan diatas, perbedaannya
selain mempergunakan alamat IP yang dia miliki dimanapun dia berada, data yang
dikirimkan akan selalu ter-enkripsi. Dengan cara ini, seorang pekerja yang sedang
berada di luar kantor dapat dengan mudah dan aman mempergunakan fasilitas yang
ada di jaringan komputer kantornya, asalkan yang bersangkutan dapat terhubung
dengan Internet. Kelemahan utama dari VPN adalah tidak adanya sebuah standard
baku yang dapat diikuti oleh semua pihak yang berkepentingan. Akibatnya ada
banyak implementasi VPN yang dapat digunakan, tapi antara satu implementasi
dengan implementasi lainnya tidak dapat saling berhubungan. Oleh karena itu
apabila sebuah organisasi memilih untuk mempergunakan sebuah implementasi VPN
pada sebuah router, maka
seluruh router yang
dimiliki organisasi tersebut yang akan digunakan dalam jaringan VPN, harus
mempergunakan implementasi VPN yang sama. Selain itu jika layanan VPN akan
diberikan kepada para pengguna yang sering berpergian, maka pada setiap host yang digunakan oleh pengguna tersebut juga
harus di-install aplikasi
VPN yang sesuai. Selain itu, karena harus melalui proses enkripsi dan dekripsi,
sehingga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan transmisi bertambah, maka
kemungkinan VPN tidak cocok untuk digunakan dalam mengirimkan data yang
bersifat interaktif, seperti tranmisi suara ataupun transmisi video.
– Layer 7
Lapisan paling atas dari jaringan komputer adalah lapisan
aplikasi. Oleh karena itu, keamanan sebuah sistem jaringan komputer tidak
terlepas dari keamanan aplikasi yang menggunakan jaringan komputer tersebut,
baik itu keamanan data yang dikirimkan dan diterima oleh sebuah aplikasi,
maupun
keamanan
terhadap aplikasi jaringan komputer tersebut. Metode-metode yang digunakan
dalam pengamanan aplikasi tersebut antara lain adalah:
– SSL
Secure Socket Layer (SSL) adalah sebuah protokol yang bekerja
tepat di bawah sebuah aplikasi jaringan komputer. Protokol ini menjamin
keamanan data yang dikirimkan satu host dengan host lainnya dan juga memberikan metode
otentikasi, terutama untuk melakukan otentikasiterhadap server yang dihubungi. Untuk keamanan data, SSL
menjamin bahwa data yang dikirimkan tidak dapat dicuri dan diubah oleh pihak
lain. Selain itu, SSL juga melindungi pengguna dari pesan palsu yang mungkin
dikirimkan oleh pihak lain. Tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam
menggunakan SSL adalah :
1.
Negosiasi algoritma yang akan digunakan kedua-belah pihak.
2.
Otentikasi menggunakan Public Key Encryption atau
Sertifikat elektronik.
3.
Komunikasi data dengan menggunakan Symmetric Key Encryption.
Pada
tahap negosiasi algoritma yang akan digunakan, pilihan-pilihan algoritma yang
bisa digunakan adalah :
• Public Key Encryption : RSA, Diffie-Helman, DSA (Digital
Signature Algorithm) atau Fortezza
• Symmetric Key Encryption : RC2, RC4, IDEA
(International Data Encryption Algorithm), DES (Data Encryption Standard),
Triple DES atau AES
• Untuk fungsi hash 1 arah : MD5 (Message-Digest algorithm 5) atau SHA (Secure Hash Algorithm)
aplikasi yang banyak menggunakan SSL adalah aplikasi perbankan berbasiskan web.
Perkembangan lanjutan dari
SSL adalah TLS, kepanjangan dari Transport Layer Security.
Kelebihan-kelebihan
yang dimiliki oleh TLS adalah :
• Pemberian
nomor pada semua data dan menggunakan nomor urut pada Message Authentication Code (MAC)
• Message Digest hanya
dapat dipergunakan dengan kunci yang tepat.
• Perlindungan
terhadap beberapa serangan yang sudah diketahui (seperti Man in the Middle Attack)
• Pihak yang
menghentikan koneksi, mengirimkan resume dari seluruh data yang dipertukarkan
oleh kedua belah pihak.
• Membagi
data yang dikirimkan menjadi dua bagian, lalu menjalankan fungsi hash yang berbeda pada kedua bagian data.
Pada
implementasinya banyak aplikasi di sisi server dapat memfasilitasi koneksi
biasa ataupun koneksi dengan TLS, tergantung dengan kemampuan klien yang
melakukan koneksi. Apabila klien dapat melakukan koneksi dengan TLS maka data
yang dikirimkan akan melalui proses enkripsi. Sebaliknya, apabila klien tidak
memiliki kemampuan TLS, maka data akan dikirimkan dalam format plaintext.
– Application Firewall
Selain permasalahan keamanan transaksi data, yang perlu
diperhatikan pada lapisan ini adalah aplikasi itu sendiri. Sebuah aplikasi
jaringan komputer yang terbuka untuk menerima koneksi dari pihak lain dapat
memiliki kelemahan yang dapat dipergunakan oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab. Sebuah kelemahan pada sebuah aplikasi dapat mengancam keamanan host yang menjalankan aplikasi tersebut juga host-host lain yang berada pada sistem jaringan komputer
yang sama. Dengan semakin berkembangnya virus dan worm yang menyerang kelemahan-kelemahan yang ada
pada aplikasi jaringan komputer, maka diperlukan keamanan lebih pada lapisan
ini. Untuk melindungi aplikasi-aplikasi jaringan komputer yang ada, maka perlu
dipastikan bahwa semuadata yang diterima oleh aplikasi tersebut dari pihak lain
adalah data yang valid dan tidak berbahaya. Sebuah Application Firewall adalah sebuah sistem yang akan memeriksa seluruh
data yang akan diterima oleh sebuah aplikasi jaringan komputer. Paket-paket
data yang diterima dari pihak lain akan disatukan untuk kemudian diperiksa
apakah data yang dikirimkan berbahaya atau tidak. Apabila ditemukan data yang
berbahaya untuk sebuah aplikasi, maka data tersebut akan dibuang, sehingga
tidak membahayakan sistem jaringan komputer secara keseluruhan. Pada umumnya Application Firewall diletakkan pada setiap host untuk melindungi aplikasi jaringan komputer
yang ada pada host tersebut.
Kekurangan dari sistem ini adalah diperlukannya sumber daya komputasi yang
sangat besar untuk menyatukan kemudian memeriksa seluruh paket yang diterima
oleh sebuah host.
Selain itu, dengan adanya sistem ini, maka waktu yang dibutuhkan agar sebuah
data dapat sampai ke aplikasi yang dituju akan semakin lama, karena harus
melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Oleh karena itu, sistem ini tidak cocok
untuk di-implementasikan pada sistem yang mengharuskan data dikirim dan diterima
secara real-time. Bentuk
lain dari Application Firewall adalah
Network Proxy. Tugas sebuah proxy adalah untuk mewakili klien-klien yang ada
untuk melakukan hubungan dengan server-server tujuan. Bagi klien yang akan
melakukan koneksi ke sebuah server, proxy adalah server tersebut. Sedangkan bagi server
yang dihubungi, proxy adalah
klien-nya. Dengan menggunakan proxy akan
lebih sulit bagi pihak luar untuk melakukan serangan ke jaringan komputer
internal, karena pihak tersebut hanya dapat berhubungan dengan proxy tersebut, sehingga pihak luar tersebut tidak dapat
mengetahui lokasi sebenarnya dari server yang dihubunginya. Selain itu sebuah proxy juga dapat memiliki sederetan access-list yang akan mengatur hak akses klien ke server.
Network Proxy juga dapat difungsikan terbalik, menjadi
sebuah reverse proxy. Dengan
reverse proxy tujuan utamanya adalah untuk melindungi
server-server di jaringan internal. Karena semua request dari klien eksternal akan diterima oleh reverse proxy, maka paket-paket request yang berbahaya bagi server akan tersaring dan
tidak berbahaya bagi server internal organisasi. Kelemahan dari proxy adalah antara klien dan server tidak memiliki
hubungan langsung. Oleh karena itu, proxy tidak dapat digunakan pada protokol-protokol
ataupun aplikasi yang membutuhkan interaksi langsung antara klien dan server.
III.
Mekanisme pertahanan
Metode-metode yang dapat diterapkan untuk membuat
jaringan komputer menjadi lebih aman, antara lain:
– IDS / IPS
Intrusion Detection System (IDS) dan Intrusion Prevention System (IPS) adalah sistem yang
banyak
digunakan untuk mendeteksi dan melindungi sebuah sistem keamanan dari serangan oleh
pihak luar maupun dalam. Sebuah IDS
dapat berupa IDS berbasiskan jaringan komputer atau berbasiskan host. Pada IDS berbasiskan
jaringan komputer, IDS akan menerima kopi paket yang ditujukan pada sebuah host untuk kemudian memeriksa paket-paket
tersebut. Apabila ternyata ditemukan paket yang berbahaya, maka IDS akan
memberikan peringatan pada pengelola sistem. Karena paket yang diperiksa
hanyalah salinan dari paket yang asli, maka sekalipun ditemukan paket yang berbahaya,
paket tersebut akan tetap mencapai host yang ditujunya. Sebuah IPS bersifat lebih
aktif daripada IDS. Bekerja sama dengan firewall, sebuah IPS dapat memberikan keputusan
apakah sebuah paket dapat diterima atau tidak oleh sistem. Apabila IPS menemukan
bahwa paket yang dikirimkan adalah paket yang berbahaya, maka IPS akan memberitahu
firewall sistem untuk menolak paket data tersebut. Dalam
membuat keputusan apakah sebuah paket data berbahaya atau tidak, IDS dan IPS
dapat mempergunakan metode :
• Signature-based Intrusion Detection System. Pada metode ini, telah tersedia daftar signature yang dapat digunakan untuk menilai apakah
paket yang dikirimkan berbahaya atau tidak. Sebuah paket data akan dibandingkan
dengan daftar yang sudah ada. Metode ini akan melindungi sistem dari
jenis-jenis serangan yang sudah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu, untuk
tetap menjaga keamanan sistem jaringan komputer, data signature yang ada harus tetap ter-update.
• Anomaly-based Intrusion Detection System. Pada
metode ini, pengelola jaringan harus melakukan konfigurasi terhadap IDS dan
IPS, sehingga IDS dan IPS dapat mengatahui pola paket seperti apa saja yang
akan ada pada sebuah sistem jaringan komputer. Sebuah paket anomali adalah
paket yang tidak sesuai dengan kebiasaan jaringan komputer tersebut. Apabila
IDS dan IPS menemukan ada anomali pada paket yang diterima atau dikirimkan,
maka IDS dan IPS akan memberikan peringatan pada pengelola jaringan (IDS) atau
akan menolak paket tersebut untuk diteruskan (IPS). Untuk metode ini, pengelola
jaringan harus terus-menerus memberi tahu IDS dan IPS bagaimana lalu lintas data
yang normal pada sistem jaringan komputer tersebut, untuk menghindari adanya salah
penilaian oleh IDS atau IPS. Penggunaan IDS dan IPS pada sistem jaringan
komputer dapat mempergunakan sumber daya komputasi yang cukup besar, dan khusus
untuk IPS, dengan adanya IPS maka waktu yang dibutuhkan sebuah paket untuk
dapat mencapai host tujuannya
menjadi semakin lama, tidak cocok untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan
pengiriman data secara real-time.
Selain itu IDS dan IPS masih membuka kesempatan untuk terjadinya false-postive dimana sebuah paket yang aman dinyatakan
berbahaya dan false-negative dimana
paket yang berbahaya dinyatakan aman. Untuk mengurangi tingkat false-positive dan false-negative, perlu dilakukan pembaharuan secara rutin
terhadap sebuah IDS dan IPS. Dalam implementasinya, IDS adalah sebuah unit host yang terhubung pada sebuah hub/switch dan akan menerima salinan dari paket-paket
yang diproses oleh hub/switch tersebut.
Sedangkan untuk IPS biasanya diletakkan pada unit yang sama dengan firewall dan akan memproses paketpaket yang lewat
melalui firewall tersebut.
Sedangkan pada IDS berbasiskan host, IDS
akan memeriksa aktivitas system call, catatan
kegiatan dan perubahan pada sistem berkas pada host tersebut untuk mencari anomali atau keanehan
yang menandakan adanya usaha dari pihak luar untuk menyusup kedalam sistem. IDS
berbasiskan host akan
membantu pengelola sistem untuk melakukan audit trail terhadap sistem apabila terjadi penyusupan
dalam sistem.
– Network Topology
Selain
permasalahan aplikasi yang akan mempergunakan jaringan komputer, topologi
jaringan komputer juga memiliki peranan yang sangat penting dalam keamanan
jaringan komputer. Pembagian kelompok komputer sesuai dengan tugas yang akan
diembannya adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Dengan adanya pembagian
kelompok-kelompok jaringan komputer, apabila terjadi gangguan keamanan pada
sebuah kelompok jaringan komputer, tidak akan dengan mudah menyebar ke kelompok
jaringan komputer lainnya. Selain itu metode keamanan yang diterapkan pada
setiap kelompok jaringan komputer juga bisa berbeda-beda, sesuai dengan peranannya
masing-masing. Secara mendasar, sebuah jaringan komputer dapat dibagi atas
kelompok jaringan eksternal (Internet atau pihak luar), kelompok jaringan
internal dan kelompok jaringan diantaranya atau yang biasa disebut sebagai DeMilitarized Zone (DMZ). Komputer-komputer pada jaringan DMZ, adalah
komputer-komputer yang perlu dihubungi secara langsung oleh pihak luar. Contohnya adalah web-server, mail
exchange server dan name server. Komputer-komputer pada jaringan DMZ harus
dipersiapkan secara khusus, karena mereka akan terbuka dari pihak luar. Aplikasi
yang dipergunakan pada host-host pada
DMZ harus merupakan aplikasi yang aman, terus menerus dipantau dan dilakukan update secara reguler. Aturan-aturan yang berlaku
adalah sebagai berikut :
• Pihak
luar hanya dapat berhubungan dengan host-host yang berada pada jaringan DMZ, sesuai dengan
kebutuhan yang ada. Secara default pihak
luar tidak bisa melakukan hubungan dengan host-host pada jaringan DMZ.
• Host-host pada
jaringan DMZ secara default tidak
dapat melakukan hubungan dengan host-host pada jaringan internal. Koneksi secara
terbatas dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
• Host-host pada
jaringan internal dapat melakukan koneksi secara bebas baik ke jaringan luar
maupun ke jaringan DMZ. Pada beberapa implementasi, untuk meningkatkan keamanan,
host-host pada jaringan internal tidak dapat melakukan
koneksi ke jaringan luar, melainkan melalui perantara host pada jaringan DMZ, sehingga pihak luar tidak mengetahui
keberadaan host-host pada
jaringan komputer internal. Selain meningkatkan keamanan, pembagian seperti ini
juga menguntungkan karena penggunaan alamat IP yang lebih sedikit. Hanya host-host pada jaringan DMZ saja yang butuh untuk mempergunakan
alamat IP publik internet, sedangkan untuk host-host jaringan internal bisa mempergunakan alamat IP
privat. Hal ini terutama sangat menguntungkan bagi organisasiorganisasi yang
hanya mendapatkan sedikit alokasi alamat IP yang dapat digunakan oleh organisasi
tersebut dari service provider yang
digunakan. Kelemahan dari implementasi aturan-aturan yang ketat seperti ini
adalah ada beberapa aplikasi yang tidak dapat digunakan. Sebagai contoh, untuk
dapat melakukan video-conference ataupun
audio-conference diperlukan koneksi langsung antara satu host dengan host lainnya. Dengan implementasi dimana pihak luar
tidak dapat berhubungan dengan host pada
jaringan internal, maka host pada
jaringan internal tidak dapat melakukan video-conference. Selain itu, untuk organisasi yang cukup
besar, adanya pembagian lebih lanjut pada jaringan komputer internal akan lebih
baik. Perlu dibuat sebuah panduan mengenai interaksi apa saja yang mungkin
dilakukan dan dibutuhkan oleh satu bagian organisasi dengan bagian organisasi lainnya
melalui jaringan komputer. Setelah panduan dibuat, maka interaksi-interaksi
yang tidak diperlukan antar komputer pada jaringan yang berbeda dapat dibatasi.
Aturan dasar yang saat ini banyak digunakan adalah untuk menutup semua pintu (port) yang ada dan buka hanya yang dibutuhkan dan
aman saja. Perlu diingat, semakin banyak pembagian kelompok jaringan komputer
yang ada, maka akan semakin meningkatkan kompleksitas pemeliharaan jaringan
komputer. Selain itu semakin banyak pembagian kelompok juga akan meningkatkan
latensi koneksi antara satu host di
sebuah kelompok jaringan dengan host lain di kelompok jaringan lainnya.
– Port Scanning
Metode Port Scanning biasanya
digunakan oleh penyerang untuk mengetahui port apa saja yang terbuka dalam sebuah sistem
jaringan komputer. Tetapi metode yang sama juga dapat digunakan oleh pengelola
jaringan komputer untuk menjaga jaringan komputernya. Sebuah port yang terbuka menandakan adanya aplikasi
jaringan komputer yang siap menerima koneksi. Aplikasi ini dapat menjadi pintu
masuk penyerang ke dalam sistem jaringan komputer sebuah organisasi. Oleh
karena itu sangat penting bagi seorang pengelola jaringan komputer untuk tahu
secara pasti, aplikasi jaringan komputer apa saja yang berjalan dan siap
menerima koneksi pada sebuah host.
Apabila ditemukan bahwa ada port yang
terbuka dan tidak sesuai dengan perencanaan yang ada, maka aplikasi yang
berjalan pada port tersebut
harus segera dimatikan agar tidak menjadi lubang keamanan. Cara kerja port scanner adalah dengan cara mengirimkan paket inisiasi
koneksi ke setiap port yang sudah ditentukan sebelumnya. Apabila ternyata port scanner menerima jawaban dari sebuah port, maka ada aplikasi yang sedang bekerja dan
siap menerima koneksi pada port tersebut.
Port
Scanning sebagai bentuk serangan
Karena implementasinya yang cukup mudah dan informasinya
yang cukup berguna, maka sering kali port scanning dilakukan sebagai tahap awal sebuah serangan.
Untuk dapat melakukan penyerangan, seorang cracker perlu mengetahui aplikasi apa saja yang
berjalan dan siap menerima koneksi dari lokasinya berada. Port Scanner dapat meberikan informasi ini. Untuk dapat
mendeteksi adanya usaha untuk melakukan scanning jaringan, seorang pengelola jaringan dapat
melakukan monitoring dan
mencari paket-paket IP yang berasal dari sumber yang sama dan berusaha
melakukan akses ke sederetan port, baik
yang terbuka maupun yang tertutup. Apabila ditemukan, pengelola jaringan dapat
melakukan konfigurasi firewall untuk memblokir
IP sumber serangan. Hal ini perlu dilakukan secara berhati-hati, karena apabila
dilakukan tanpa ada toleransi, metode ini dapat mengakibatkan seluruh jaringan
Internet terblokir oleh firewall organisasi.
Oleh sebab itu, perlu ada keseimbangan antara keamanan dan performa dalam usaha
mendeteksi kegiatan port scanning dalam
sebuah jaringan komputer.
– Packet Fingerprinting
Karena keunikan setiap vendor peralatan jaringan komputer
dalam melakukan implementasi protokol TCP/IP, maka paket-paket data yang
dikirimkan setiap peralatan menjadi unik peralatan tersebut. Dengan melakukan Packet Fingerprinting, kita dapat mengetahui peralatan apa saja yang
ada dalam sebuah jaringan komputer. Hal ini sangat berguna terutama dalam sebuah
organisasi besar dimana terdapat berbagai jenis peralatan jaringan komputer
serta sistem operasi yang digunakan. Setiap peralatan dan sistem operasi
memiliki karakteristik serta kelemahannya masing-masing, oleh karena itu,
sangat penting bagi pengelola jaringan komputer untuk dapat mengetahui
peralatan dan sistem operasi apa saja yang digunakan dalam organisasi tersebut.
Dengan mengetahui peralatan jenis apa atau sistem operasi apa saja yang ada
pada sebuah organisasi, pengelola jaringan komputer dapat lebih siap dalam
melakukan pengamanan jaringan komputer organisasi tersebut. Untuk menentukan
tipe peralatan atau sistem operasi ada, sebuah peralatan fingerprinting akan melihat bagaimana peralatan jaringan
komputer atau sistem operasi yang bersangkutan memberikan nilai-nilai awal pada
beberapa bagian di header IP.
Bagian-bagian tersebut adalah:
• Time-to-Live
– Setiap peralatan jaringan komputer mempergunakan nilai awal yang berbeda-beda
dalam memberikan nilai ke bagian time-to-live pada header IP.
• Window-size
- Setiap peralatan jaringan komputer, mempergunakan ukuran TCP windows yang berbeda-beda.
• bit DF
pada paket – Apakah peralatan jaringan komputer yang mengirimkan paket
tersebut
mempergunakan bit DF (dont' t fragment),
pada awal koneksi. Tidak terlalu berguna dalam membedakan satu peralatan dengan
peralatan lainnya.
• bit Type of Service – Jenis layanan apa yang diberikan oleh sebuah
peralatan jaringan komputer pada paket yang dikirimnya. Karena pada banyak
implementasi, jenis layanan yang diinginkan, ditentukan oleh protokol atau
aplikasi yang sedang berjalan dan bukan oleh sistem operasi atau peralatan yang
digunakan, maka penggunaan bit Type of Service tidak
terlalu berguna dalam membedakan satu peralatan dengan peralatan lainnya.
Setelah
mendapatkan informasi-informasi di atas, peralatan fingerprinting akan melakukan perbandingan dengan data yang
sudah dimiliki sebelumnya.
Fingerprinting dapat
dilakukan secara aktif maupun secara pasif. Jika dilakukan secara aktif, analis
akan mengirimkan sebuah paket request yang
kemudian akan dibalas oleh host target.
Paket balasan dari host target
inilah yang kemudian dianalisa. Sedangkan jika dilakukan secara pasif, maka
analis akan menunggu host target
mengirimkan paket, kemudia paket tersebut akan dianalisa. Selain dapat
digunakan oleh pengelola jaringan komputer untuk mengamankan jaringan komputer
organisasi, metode yang sama sering digunakan oleh pihak-pihak yang ingin menganggu
sebuah jaringan komputer.
– Security Information
Management
Dalam usaha untuk meningkatkan keamanan jaringan
komputer, sebuah organisasi mungkin akan meng-implementasikan beberapa
teknologi keamanan jaringan komputer, seperti firewall, IDS dan IPS. Semua usaha tersebut dilakukan
sehingga keamanan jaringan komputer organisasi tersebut menjadi lebih terjamin.
Namun, dengan semakin banyaknya peralatan jaringan komputer yang
di-implementasikan, maka akan semakin banyak pula peralatan yang perlu
dikelola. Pengelolaan akan dimulai dari konfigurasi peralatan agar sesuai
dengan kebutuhan organisasi. Setelah itu setiap peralatan yang sudah terpasang
perlu dipantau, perlu dianalisa apakah sudah berfungsi sesuai dengan rancangan
awal. Salah satu bentuk pemantau yang perlu dilakukan adalah memantau log dan alert yang dihasilkan oleh setiap peralatan. Jumlah
log dan alert yang dihasilkan oleh semua peralatan keamanan
jaringan komputer yang terpasang dapat berukuran sangat besar. Akan membutuhkan
banyak waktu pengelola jaringan komputer untuk menganalisa seluruh log dan alert yang ada, termasuk didalamnya adalah
melakukan pencarian dimana log atau alert tersebut tersimpan. Salah satu penyebab utama
dari kegagalan sistem keamanan jaringan komputer adalah kesalahan pengelola
dalam melakukan analisa informasi yang dihasilkan masing-masing perangkat
keamanan jaringan komputer. Kesalahan analisa dapat menyebabkan pengelola lambat,
salah atau tidak terarah dalam menghadapi serangan yang sedang berlangsung. Oleh
karena itu, salah satu alat bantu yang dapat digunakan oleh pengelola jaringan
komputer adalah Security Information Management (SIM). SIM berfungsi untuk menyediakan seluruh infomasi
yang terkait dengan pengamanan jaringan komputer secara terpusat. Dengan menggunakan
SIM, pengelola dapat dengan mudah mengetahui kondisi seluruh peralatan yang dimilikinya
dan melakukan identifikasi serangan yang ada. Pada fungsi paling dasarnya, SIM akan
mengumpulkan semua log dan alert yang dihasilkan oleh semua peralatan keamanan
jaringan komputer yang ada ke dalam satu tempat, sehingga mempermudah
pengelolaan. Pada perkembangannya SIM tidak hanya berfungsi untuk mengumpulkan
data-data dari semua peralatan keamanan jaringan komputer tapi juga memiliki
kemampuan untuk analisa data melalui teknik korelasi dan query data terbatas sehingga menghasilkan
peringatan dan laporan yang lebih lengkap dari masing-masing serangan. Dengan
mempergunakan SIM, pengelola jaringan komputer dapat mengetahui secara lebih cepat
bahwa sedang ada serangan dan dapat melakukan penanganan yang lebih terarah, sehingga
keamanan jaringan komputer organisasi tersebut lebih terjamin.
IV.
Jenis-jenis Ancaman
Berikut ini akan dijelaskan beberapa tipe-tipe serangan
yang dapat dilancarkan oleh pihak-pihak tertentu terhadap sebuah jaringan
komputer:
– DOS/DDOS
Denial of Services dan Distributed Denial of Services adalah
sebuah metode serangan yang bertujuan untuk menghabiskan sumber daya sebuah
peralatan jaringan komputer sehingga layanan jaringan komputer menjadi
terganggu. Salah
satu bentuk serangan ini adalah 'SYN Flood Attack', yang mengandalkan kelemahan
dalam sistem 'three-way-handshake'. 'Three-way-handshake' adalah proses awal dalam melakukan koneksi
dengan protokol TCP. Proses ini dimulai dengan pihak klien mengirimkan paket
dengan tanda SYN. Lalu kemudian pihak server akan menjawab dengan mengirimkan paket
dengan tanda SYN dan ACK. Terakhir, pihak klien akan mengirimkan paket ACK. Setelah
itu, koneksi akan dinyatakan terbuka, sampai salah satu pihak mengirimkan paket
FIN atau paket RST atau terjadi connection time-out. Dalam proses 'three-way-handshake', selain terjadi inisiasi koneksi, juga terjadi
pertukaran data-data parameter yang dibutuhkan agar koneksi yang sedang dibuat
dalam berjalan dengan baik. Dalam serangan ini, sebuah host akan menerima paket inisiasi koneksi (Paket
dengan flag SYN) dalam jumlah yang sangat banyak secara terus menerus.
Akibatnya host yang
sedang diserang akan melakukan alokasi memori yang akan digunakan untuk
menerima koneksi tersebut dan karena paket inisiasi terus-menerus diterima maka
ruang memori yang dapat digunakan untuk menerima koneksi akan habis. Karena
semua ruang memori yang dapat digunakan untuk menerima koneksi sudah habis,
maka ketika ada permintaan baru untuk melakukan inisiasi koneksi, host ini tidak dapat melakukan alokasi memori
sehingga permintaan baru ini tidak dapat dilayani oleh host ini. Untuk menghindari pelacakan, biasanya
paket serangan yang dikirimkan memiliki alamat IP sumber yang dipalsukan. Untuk
menghadapi serangan seperti ini, sistem operasi – sistem operasi modern telah
mengimplementasikan metode-metode penanganan, antara lain :
• Micro-blocks. Ketika
ada sebuah host menerima
paket inisiasi, maka host akan mengalokasikan
ruang memori yang sangat kecil, sehingga host tersebut bisa menerima koneksi lebih banyak.
Diharapkan ruang memori dapat menampung semua koneksi yang dikirimkan, sampai
terjadi connection-time-out,
dimana koneksi-koneksi yang stale, yaitu
koneksi yang tidak menyelesaikan proses 'three-way-handshake' atau sudah lama tidak ada transaksi data,
akan dihapuskan dari memori dan memberikan ruang bagi koneksi-koneksi baru.
Metode ini tidak terlalu efektif karena bergantung pada kecepatan serangan
dilakukan, apabila ternyata kecepatan paket serangan datang lebih cepat daripada
lamanya waktu yang perlu ditunggu agar terjadi connection-time-out pada paket-paket yang stale, make ruang memori yang dapat dialokasikan
akan tetap habis.
• SYN Cookies.
Ketika menerima paket inisiasi, host penerima akan mengirimkan paket tantangan
yang harus dijawab pengirim, sebelum host penerima mengalokasikan memori yang
dibutuhkan. Tantangan yang diberikan adalah berupa paket SYN-ACK dengan nomor
urut khusus yang merupakan hasil dari fungsi hash dengan input alamat IP pengirim, nomor port, dll. Jawaban dari pengirim akan mengandung
nomor urut tersebut. Tetapi untuk melakukan perhitungan hash membutuhkan sumber-daya komputasi yang cukup
besar, sehingga banyak server-server yang aplikasinya membutuhkan kemampuan
komputasi tinggi tidak mempergunakan metode ini. Metode ini merubah waktu
peng-alokasian memori, yang tadinya pada awal dari proses 'threeway-handshake', menjadi diakhir dari proses tersebut.
(notes: pada standard TCP/IP yang baru, ditentukan bahwa diperlukan cara yang
lebih baik untuk menentukan urut paket, sehingga sulit untuk ditebak. Jadi
kemungkinan secara default,
metode ini akan digunakan pada seluruh peralatan jaringan komputer atau sistem
operasi yang ada).
• RST Cookies. Mirip
dengan SYN Cookies,
hanya tantangan yang dikirimkan host penerima ke pengirim adalah sebuah paket yang
salah. Apabila pengirim adalah pengirim yang valid, maka pengirim akan
mengirimkan paket RST lalu mengulang kembali koneksi. Ketika penerima menerima
paket RST, host tersebut
tahu bahwa pengirim adalah valid dan akan menerima koneksi dari pengirim dengan
normal. Karena ada masalah dengan implementasi lapisan TCP/IP, metode ini
kemungkinan tidak kompatibel dengan beberapa sistem operasi. Metode ini merubah
waktu pengalokasian memori, yang tadinya pada awal dari proses 'three-way-handshake', menjadi diakhir dari proses tersebut. Bentuk
lain dari serangan DOS adalah 'Smurf Attack' yang
mempergunakan paket ping request. Dalam
melakukan penyerangan, penyerang akan mengirimkan paket-paket ping request kebanyak host dengan merubah alamat IP sumber menjadi
alamat host yang
akan diserang. Hosthost yang
menerima paket ping request tersebut
akan mengirimkan paket balasan ke alamat IP host korban serangan. Untuk serangan dapat
mengganggu sistem korban, host yang
menjawab paket ping request harus
cukup banyak. Oleh karena itu, biasanya paket ping request akan dikirimkan ke alamat broadcast dari sebuah kelompok jaringan komputer,
sehingga host-host pada
kelompok jaringan komputer tersebut secara otomatis akan menjawab paket
tersebut. DOS juga dapat dilakukan dengan cara mengirimkan permintaan layanan
yang diberikan oleh sebuah host secara
berlebihan atau terus menerus. Tujuan dari serangan model ini adalah untuk membuat
host menjadi terlalu sibuk atau kehabisan sumber
daya komputasi sehingga tidakdapat melayani permintaan-permintaan lainnya. Perkembangan
lanjutan dari DOS adalah DDOS, dimana host yang terlibat dalam serangan lebih
dari satu dan tersebar di banyak tempat. Banyaknya host yang terlibat dalam serangan akan meningkatkan
efek serangan dan mempersulit pihak yang diserang untuk mempertahankan diri
ataupun melakukan pelacakan asal serangan. Pada banyak kejadian, host-host yang terlibat dalam serangan, tidak semuanya
sadar bahwa mereka terlibat dalam sebuah serangan DDOS. Host-host tersebut telah disusupi terlebih dahulu oleh
penyerang, sehingga penyerang dapat mempergunakan host tersebut untuk melakukan serangan. Penyusupan
dapat dilakukan dengan cara mengirimkan trojan atau worm ke banyak host.
– Packet Sniffing
Packet Sniffing adalah sebuah metode serangan dengan cara
mendengarkan seluruh paket yang lewat pada sebuah media komunikasi, baik itu
media kabel maupun radio. Setelah paket-paket yang lewat itu didapatkan,
paket-paket tersebut kemudian disusun ulang sehingga data yang dikirimkan oleh
sebuah pihak dapat dicuri oleh pihak yang tidak berwenang. Hal ini dapat
dilakukan karena pada dasarnya semua koneksi ethernet adalah koneksi yang bersifat broadcast, di mana semua host dalam sebuah kelompok jaringan akan menerima
paket yang dikirimkan oleh sebuah host. Pada keadaan normal, hanya host yang menjadi tujuan paket yang akan memproses
paket tersebut sedangkan host yang
lainnya akan mengacuhkan paketpaket tersebut. Namun pada keadaan tertentu,
sebuah host bisa
merubah konfigurasi sehingga host tersebut
akan memproses semua paket yang dikirimkan oleh host lainnya. Cukup sulit untuk melindungi diri
dari gangguan ini karena sifat dari packet sniffing yang merupakan metode pasif (pihak penyerang
tidak perlu melakukan apapun, hanya perlu mendengar saja). Namun ada beberapa
hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini, yaitu:
• Secara
rutin melakukan pemeriksaan apakah ada host di jaringan kita yang sedang dalam mode promiscuous, yaitu sebuah mode dimana host tersebut akan memproses semua paket yang
diterima dari media fisik. Akan tetapi hal ini hanya akan melindungi diri kita
terhadap packet sniffer yang
berada pada satu kelompok jaringan dengan kita. Penyerang yang melakukan sniffing dari luar jaringan komputer kita tidak akan terdeteksi
dengan menggunakan metode ini.
• Mempergunakan
SSL atau TLS dalam melakukan pengiriman data. Ini tidak akan mencegah packet sniffer untuk mencuri paket yang dikirimkan, akan
tetapi paket-paket yang dicuri tidak bisa dipergunakan karena dikirimkan dengan
menggunakan format yang terenkripsi.
• Melakukan
koneksi VPN, sehingga tetap bisa mempergunakan aplikasi yang tidak mendukung
SSL atau TLS dengan aman.
Packet Sniffing sebagai
tools pengelola jaringan
Sebenarnya selain sebagai menjadi alat untuk melakukan
kejahatan, packet sniffer juga
bisa digunakan sebagai alat pertahanan. Dengan melakukan analisa paket-paket
yang melalui sebuah media jaringan komputer, pengelola dapat mengetahui apabila
ada sebuah host yang mengirimkan
paket-paket yang tidak normal, misalnya karena terinfeksi virus. Sebuah IDS
juga pada dasarnya adalah sebuah packet sniffer yang bertugas untuk mencari host yang mengirimkan paket-paket yang berbahaya
bagi keamanan. Selain itu packet sniffer juga
bisa menjadi alat untuk melakukan analisa permasalahan yang sedang dihadapi
sebuah jaringan komputer. Misalkan ketika sebuah host tidak dapat berhubungan dengan host lainnya yang berada pada kelompok jaringan
yang berbeda, maka dengan packet sniffer,
pengelola jaringan komputer dapat melakukan penelusuran dimana permasalahan
koneksi itu terletak.
– IP Spoofing
IP Spoofing adalah sebuah model serangan yang bertujuan
untuk menipu seseorang. Serangan ini dilakukan dengan cara mengubah alamat asal
sebuah paket, sehingga dapat melewati perlindungan firewall dan menipu host penerima data. Hal ini dapat dilakukan karena
pada dasarnya alamat IP asal sebuah paket dituliskan oleh sistem operasi host yang mengirimkan paket tersebut. Dengan
melakukan raw-socket-programming,
seseorang dapat menuliskan isi paket yang akan dikirimkan setiap bit-nya
sehingga untuk melakukan pemalsuan data dapat dilakukan dengan mudah. Salah
satu bentuk serangan yang memanfaatkan metode IP Spoofing adalah 'man-in-the-middleattack'. Pada serangan ini, penyerang akan berperan
sebagai orang ditengah antara dua pihak yang sedang berkomunikasi. Misalkan ada
dua pihak yaitu pihak A dan pihak B lalu ada penyerang yaitu C. Setiap kali A
mengirimkan data ke B, data tersebut akan dicegat oleh C, lalu C akan
mengirimkan data buatannya sendiri ke B, dengan menyamar sebagi A. Paket
balasan dari B ke A juga dicegat oleh C yang kemudian kembali mengirimkan data
'balasan' buatannya sendiri ke A. Dengan cara ini, C akan mendapatkan seluruh
data yang dikirimkan antara A dan B, tanpa diketahui oleh A maupun C. Untuk
mengatasi serangan yang berdasarkan IP Spoofing, sebuah sistem operasi harus dapat memberikan
nomor-urut yang acak ketika menjawab inisiasi koneksi dari sebuah host. Dengan nomor urut paket yang acak, akan
sangat sulit bagi seorang penyerang untuk dapat melakukan pembajakan transmisi
data. Selain itu, untuk mengatasi model serangan 'man-in-the-middle-attack', perlu ada sebuah metode untuk melakukan
otentikasi host yang
kita hubungi. Otentikasi dapat berupa digitalcertificate yang eksklusif dimiliki oleh host tersebut. Konfigurasi firewall yang tepat juga dapat meningkatkan kemampuan
jaringan komputer dalam menghadapi IP Spoofing. Firewall harus dibuat agar dapat menolak paket-paket
dengan alamat IP sumber jaringan internal yang masuk dari interface yang terhubung dengan jaringan eksternal.
– DNS Forgery
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk
mencuri data-data penting orang lain adalah dengan cara melakukan penipuan.
Salah satu bentuk penipuan yang bisa dilakukan adalah penipuan data-data DNS. DNS
adalah sebuah sistem yang akan menterjemahkan nama sebuah situs atau host menjadi alamat IP situs atau host tersebut. Cara kerja DNS cukup sederhana,
yaitu sebuah host mengirimkan
paket (biasanya dengan tipe UDP) yang pada header paket tersebut berisikan alamat host penanya, alamat DNS resolver, pertanyaan yang diinginkan serta sebuah
nomor identitas. DNS resolver akan
mengirimkan paket jawaban yang sesuai kepenanya. Pada paket jawaban tersebut
terdapat nomor identitas, yang dapat dicocokkan oleh penanya dengan nomor
identitas yang dikirimnya. Oleh karena cara kerja yang sederhana dan tidak
adanya metode otentikasi dalam sistem komunikasi dengan paket UDP, maka sangat memungkinkan
seseorang untuk berpura-pura menjadi DNS resolver dan mengirimkan paket jawaban palsu dengan
nomor identitas yang sesuai ke penanya sebelum paket jawaban dari DNS resolver resmi diterima oleh penanya. Dengan cara ini,
seorang penyerang dapat dengan mudah mengarahkan seorang pengguna untuk
melakukan akses ke sebuah layanan palsu tanpa diketahui pengguna tersebut.
Sebagai contoh, seorang penyerang dapat mengarahkan seorang pengguna Internet Banking untuk melakukan akses ke situs Internet Banking palsu yang dibuatnya untuk mendapatkan
data-data pribadi dan kartu kredit pengguna tersebut. Untuk dapat melakukan
gangguan dengan memalsukan data DNS, seseorang membutuhkan informasi-informasi
di bawah ini :
• Nomor
identitas pertanyaan (16 bit)
• Port
tujuan pertanyaan
• Alamat
IP DNS resolver
• Informasi
yang ditanyakan
• Waktu
pertanyaan.
Pada
beberapa implementasi sistem operasi, informasi diatas yang dibutuhkan
seseorang untuk melakukan penipuan data DNS bisa didapatkan. Kunci dari
serangan tipe ini adalah, jawaban yang diberikan DNS resolver palsu harus diterima oleh penanya sebelum
jawaban yang sebenarnya diterima, kecuali penyerang dapat memastikan bahwa
penanya tidak akan menerima jawaban yang sebenarnya dari DNS resolver yang resmi.
DNS
Cache Poisoning
lain serangan
dengan menggunakan DNS adalah DNS Cache Poisoning.
Serangan ini memanfaatkan cache dari setiap server DNS yang merupakan tempat
penyimpanan sementara data-data domain yang bukan tanggung jawab server DNS
tersebut. Sebagai contoh, sebuah organisasi 'X' memiliki server DNS (ns.x.org)
yang menyimpan data mengenai domain 'x.org'. Setiap komputer pada organisasi
'X' akan bertanya pada server 'ns.x.org' setiap kali akan melakukan akses
Internet. Setiap kali server ns.x.org menerima pertanyaan diluar domain 'x.org',
server tersebut akan bertanya pada pihak otoritas domain. Setelah mendapatkan
jawaban yang dibutuhkan, jawaban tersebut akan disimpan dalam cache, sehingga jika ada pertanyaan yang sama,
server 'ns.x.org' dapat langsung memberikan jawaban yang benar. Dengan
tahapantahapan tertentu, seorang penyerang dapat mengirimkan data-data palsu
mengenai sebuah domain yang kemudian akan disimpan di cache sebuah server DNS, sehingga apabila server tersebut
menerima pertanyaan mengenai domain tersebut, server akan memberikan jawaban yang
salah. Patut dicatat, bahwa dalam serangan ini, data asli server DNS tidak
mengalami perubahan sedikitpun. Perubahan data hanya terjadi pada cache server DNS tersebut. Cara yang paling efektif
dalam menghadapi serangan yang merubah DNS server adalah dengan melakukan otentikasi
host yang akan kita hubungi. Model otentikasi yang
banyak digunakan saat ini adalah dengan mempergunakan digital certificate. Dengan digital certificate, seseorang dapat dengan yakin bahwa host yang dia akses adalah host yang sebenarnya.
V.
Studi Kasus
Berikut ini adalah dua studi kasus implementasi
pengamanan jaringan komputer. Studi kasus pertama menggambarkan suatu kegagalan
dalam usaha pengamanan jaringan komputer sementara studi kasus kedua merupakan
sebuah kajian mengenai bagaimana jaringan komputer untuk suatu Usaha Kecil Menengah
(UKM) dapat diimplementasikan.
– Pengumuman
Hasil Ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)
Pada
setiap awal tahun ajaran, Universitas Indonesia mendapatkan kehormatan untuk
menjadi tempat hosting pengumuman
penerimaan mahasiswa baru seluruh Indonesia. Sebagai sebuah event yang sangat penting, diperlukan persiapan
yang sangat matang. Salah satu persiapan yang terpenting adalah persiapan
jaringan komputer yang akan digunakan untuk menjamin tersedianya akses yang memadai
bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengumuman tersebut, terutama pada
saat-saat puncak, yaitu malam pertama pengumuman hasil SPMB. Setelah beberapa
tahun menjalani peranan tersebut, ada beberapa permasalahan yang dihadapiketika
acara sedang berlangsung, yaitu :
• Habisnya
sumber daya pada web server yang
digunakan, karena banyaknya request yang terima,
termasuk didalamnya usaha serangan DOS (Denial of Service), sedangkan kapasitas web server yang ada tidak sebanding dengan request yang masuk. Dalam beberapa kesempatan, web server yang digunakan kehabisan sumber daya memori, sehingga
web server mengalami crash, yang selanjutnya dapat merusak komponen
lain dari web server tersebut
seperti media penyimpanan hard-disk. Jika
hal ini terjadi, maka waktu untuk melakukan recovery akan cukup lama. Selama proses recovery tersebut, akses ke situs pengumuman hasil SPMB tidak dapat
dilayani.
• Bandwidth koneksi
Internet yang habis didominasi oleh beberapa pihak tertentu yang melakukan mirroring data. Walaupun hal ini tidak dilarang, tapi
hal ini akan merugikan pengguna-pengguna lain yang tidak dapat melakukan akses
karena bandwidth yang
ada sudah habis digunakan. Seringkali dalam suatu kurun waktu, bandwidth yang ada habis untuk melayani satu klien
saja.
• Akses
data yang membutuhkan waktu cukup lama, karena terbatasnya sumber daya yang ada
dan penggunaan struktur basis data penyimpanan data yang kompleks. Berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang didapatkan dari tahun-tahun sebelumnya, maka persiapan-persiapan
yang dilakukan pada tahun ini adalah :
• Penggunaan
teknologi virtual server yang
memungkinkan penggunaan beberapa web server dan melakukan pembagian beban di antaranya.
Sebuah virtual server adalah
sebuah host yang
akan menerima koneksi dari klien-klien dan mengatur ke web server yang mana koneksi tersebut akan diarahkan.
Pada virtual server tersebut
juga akan dicatat jumlah koneksi yang sedang ditangani setiap web server, sehingga virtual server tersebut dapat membagi beban dengan sebaik
mungkin. Ada beberapa algoritma yang dapat
digunakan untuk membagi beban web server, antara lain membagi koneksi secara round-robin atau least-connection. Ada juga algoritma yang bisa memberikan bobot lebih pada
server-server dengan kemampuan lebih dibandingkan dengan server lainnya. Algoritma
lainnya adalah membagi koneksi berdasarkan lokasi klien yang melakukan akses.
Untuk masalah konektivitas, virtual server juga
memberikan beberapa pilihan, yaitu:
• Virtual server bertindak
sebagai router,
dimana semua koneksi masuk dan keluar ke server akan melalui host ini. Hanya host virtual server yang memakai alamat IP publik internet.
Sedangkan untuk server-server tujuan akan mempergunakan alamat IP privat.
• Virtual server hanya
bertindak sebagai penerus koneksi saja (network bridge), sedangkan
server-server tujuan memiliki koneksi langsung sendiri. Pada skema ini, koneksi
masuk akan melalui virtual server sedangkan
koneksi keluar tidak. Baik virtual server maupun
server-server tujuan akan mempergunakan alamat IP publik.
• Virtual server sebagai
pengatur beban saja. Skema ini mirip dengan skema
sebelumnya.
Bedanya pada skema ini, server-server tujuan bisa terdapat pada kelompok
jaringan komputer yang berbeda, bahkan bisa terdapat pada lokasi fisik yang
berbeda. Pada host tersebut
juga diimplementasikan traffic shaping yang
berguna untuk mengendalikan kecepatan request yang masuk ke setiap web server. Hal ini untuk mencegah sebuah web server menerima request yang terlalu banyak sehingga beban web server tersebut terlalu berat. Dengan penggunaan virtual server dan traffic shaping, diharapkan sumber daya yang ada akan dapat
menghadapi semua request yang
masuk dan serangan DOS yang mungkin terjadi.
• Karena
sifat data yang hanya perlu akses baca saja, maka dilakukan perubahan sistem penyimpanan
data dari mempergunakan basis data menjadi Lightweight Directory Access Protocol (LDAP). Dengan LDAP akses baca data menjadi
lebih cepat dan juga membutuhkan sumber daya memori maupun sumber daya
komputasi yang lebih rendah dibandingkan dengan mempergunakan basis data. Hal
ini dapat terjadi karena struktur data yang digunakan untuk menyimpan data
dengan LDAP cukup sederhana. Dalam LDAP, data disimpan dalam struktur pohon,
sehingga untuk melakukan pencarian data dapat dilakukan dengan cepat. Selain itu
untuk melakukan pengisian ulang data juga lebih cepat, sehingga apabila terjadi
kerusakan pada data, proses perbaikan dapat dilakukan dengan cepat.
• Perbaikan
interface aplikasi, yang mencegah agar tidak ada
pengguna yang bisa melakukan mirroring data.
Perbaikan mencakup penambahan kode rahasia yang perlu dimasukkan pengguna
setiap kali pengguna ingin melakukan akses data. Kode rahasia ini ditampilkan
ditampilkan dalam bentuk gambar di halaman situs yang diakses pengguna saat
melakukan request dan
kode ini akan berubah setiap kali pengguna melakukan akses.
• Penggunaan
Live-CD linux, sehingga menghindari kemungkinan
kerusakan media penyimpanan hard-disk.
Dengan menggunakan hal ini juga mempermudah dalam melakukan duplikasi web server. Kemudahan ini akan sangat berguna ketika
akan melakukan penambahan web server dalam
waktu yang singkat. Pada waktu pengumuman tiba, dideteksi bahwa tingkat koneksi
request sangat rendah, sedangkan kecepatan untuk
melakukan akses internet sangat lambat. Dugaan awal adalah adanya terjadi
gangguan pada jaringan komunikasi data antara Universitas Indonesia ke jaringan
Internet. Pemeriksaan pada peralatan jaringan komunikasi data tidak menunjukkan
adanya gangguan. Setelah dilakukan analisa paket yang diterima oleh jaringan
komunikasi data Internet Universitas Indonesia, ditemukan ada sebuah host di Internet yang mengirimkan paket dengan
tipe UDP berukuran kecil tapi dengan jumlah yang sangat banyak dan dengan
kecepatan pengiriman yang sangat tinggi. Karena konfigurasi firewall pada pintu gerbang Internet Universitas
Indonesia, paket UDP tersebut tidak masuk ke dalam jaringan DMZ Universitas Indonesia.
Akan tetapi, karena kecepatan pengiriman paket sangat tinggi, wan router yang berfungsi sebagai router akses Universitas Indonesia, kehabisan sumber
daya komputasi dantidak mampu melakukan proses routing paket-paket yang masuk. Akibatnya, sekalipun bandwidth yang digunakan tidak banyak, tidak ada paket
lain yang dapat masuk ke dalam jaringan DMZ Universitas Indonesia ataupun ke
luar ke jaringan Internet. Oleh karena itu akses ke situs pengumuman tidak
dapat dilakukan, kalaupun ada paket request yang masuk, paket jawaban dari web server tidak dapat keluar dari Universitas Indonesia
untuk mencapai komputer pengguna. Sebagai langkah penanganan, wan router yang digunakan, diganti dengan yang memiliki sumber
daya komputasi lebih tinggi. Selain itu, pihak Universitas Indonesia juga
bekerja sama dengan pihak penyedia layanan Internet untuk melakukan pemblokiran
terhadap paket-paket UDP yang mengganggu jaringan Intenet Universitas
Indonesia. Setelah proses penggantian router dan pemblokiran paket selesai, layanan situs
pengumuman dapat berjalan dengan baik. Pelajaran yang didapatkan dari studi
kasus ini adalah, bahwa untuk untuk menjamin keamanan sebuah sistem, perlu
persiapan dari seluruh komponen yang terlibat di dalamnya. Dalam kasus ini,
penyelenggara hanya mempersiapkan dari sisi aplikasi yang akan digunakan saja
dan tidak ada persiapan dari lingkungan lain yang berhubungan dengan aplikasi
tersebut. Selain itu, untuk aplikasi-aplikasi penting, maka sebaiknya dibuat
duplikasi layanan tersebut dan diletakkan di beberapa lokasi terpisah. Dengan
cara ini, jika satu lokasi mengalami gangguan, layanan masih dapat berjalan
dari beberapa lokasi lainnya. Persiapan lainnya adalah membina hubungan yang lebih
dekat dengan penyedia layanan jaringan Internet. Hal ini diperlukan karena
seranganserangan seperti yang dihadapi layanan ini hanya dapat dihadapi dengan
bantuan pihak-pihak eksternal.
– Usaha
Kecil dan Menengah (UKM)
Usaha
Kecil dan Menengah sebagai unit kerja yang kecil akan memiliki karakteristik
utama :
– Sumber
daya manusia yang terbatas
– Kompleksitas
jaringan komputer yang rendah
– Dukungan
finansial yang terbatas
Dengan
karakteristik-karakteristik yang telah disebutkan di atas, maka diperlukan
suatu pendekatan yang berbeda dalam mengelola keamanan jaringan komputer jika
dibandingkan dengan perusahaan yang besar. Dengan dukungan finansial yang
terbatas, maka pemilihan teknologi menjadi area yang sangat penting. Diperlukan
teknologi yang tidak mahal namun berkemampuan tinggi dan tidak membutuhkan
biaya perawatan yang tinggi. Karena itu, penggunaan teknologi open-source menjadi pilihan yang tepat. Selain memerlukan
biaya yang rendah untuk implementasinya, teknologi open-source cukup aman sehingga tidak memerlukan
pengelolaan yang sulit. Namun pemilihan teknologi juga terkait erat dengan
kemampuan sumber daya manusia yang ada. Oleh karena itu, perlu diperhatikan
juga kapabilitas yang dimiliki oleh sumber daya manusia yang tersedia, jangan
sampai dipilih teknologi yang dimana tidak ada sumber daya manusia yang mampu
mengelolanya. Dengan sumber daya manusia yang terbatas, maka topologi jaringan
yang dibentuk harus cukup sederhana, sehingga tidak membutuhkan banyak personel
untuk melakukan pengelolaan jaringan komputer. Topologi jaringan komputer yang
terlalu kompleks akan membutuhkan banyak peralatan jaringan komputer, yang
selain akan membutuhkan biaya lebih tinggi, juga akan membutuhkan lebih banyak
upaya untuk mengelolanya. Topologi jaringan komputer sebuah UKM terdiri atas :
• Kelompok
Jaringan DMZ
Terdiri
atas host yang
perlu berhubungan langsung dengan komputer. Dengan kebutuhan UKM yang tidak
banyak, maka host-host yang
ada dalam kelompok jaringan ini terdiri atas : proxy server, mail server dan web/ftp server. Sebagai perlindungan awal dari serangan,
dapat di-implementasikan router yang
berfungsi sekaligus sebagai firewall.
• Kelompok
jaringan komputer internal
Pada
kelompok jaringan inilah komputer-komputer yang akan digunakan para staf UKM untuk
bekerja.
• Backup
server
Sebagai
persiapan apabila terjadi gangguan yang merusak, maka perlu dilakukan proses backup secara rutin. Untuk itu perlu sebuah host yang fungsinya khusus menyimpan data-data
yang di backup,
sehingga apabila dibutuhkan dapat langsung digunakan. Selain itu, dengan
terbatasnya sumber daya yang dimiliki, maka faktor sumber daya manusia, baik
itu pengelola jaringan komputer maupun pengguna memiliki peranan yang sangat
penting. Baik pengelola maupun pengguna harus selalu waspada terhadap berbagai
bentuk ancaman yang ada. Para pengguna harus dibiasakan untuk melakukan update sistem operasi dan perangkat lunak yang
digunakannya (misalnya update antivirus).
Pengelola harus selalu menjalankan fungsi pendidikan terhadap pengguna sehingga
pengguna selalu tahu ancaman apa saja yang dihadapi saat ini. Hal ini menjadi
sangat penting, mengingat keterbatasan kemampuan UKM untuk melakukan
implementasi teknologi pengamanan jaringan komputer tingkat tinggi, maka
kekurangan yang ada, perlu ditutupi dengan kedisiplinan sumber daya manusia
yang ada untuk menjaga jaringan komputer organisasi.
VI.
Kesimpulan
Keamanan
jaringan komputar bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan sistem informasi
sebuah organisasi secara keseluruhan. Dengan semakin berkembangnya teknologi
Internet, maka penggunaan Internet semakin luas dan begitu juga dengan usaha
seseorang untuk melakukan gangguan dengan menggunakan teknologi tersebut. Seperti
halnya dengan di bidang lain, usaha untuk mengamankan sebuah jaringan komputer
harus dipandang secara keseluruhan, tidak bisa secara partial. Setiap lapisan dalam jaringan komputer
harus dapat melaksanakan fungsinya secara aman. Pemilihan teknologi yang tepat
harus sesuai dengan kebutuhan yang ada. Pemilihan teknologi yang tidak tepat,
selain akan mengeluarkan biaya terlalu besar, juga justru dapat mengurangi
tingkat keamanan sebuah sistem. Selain itu yang perlu diingat, bahwa semakin
banyak peralatan keamanan jaringan komputer yang kita implementasi, maka akan semakin
banyak pula pekerjaan pengelola jaringan komputer. Akan semakin banyak log yang dihasilkan masing-masing peralatan,
mulai dari yang paling penting sampai yang hanya berupa catatan saja. Kegagalan
untuk mengelola informasi yang dihasilkan oleh setiap peralatan dapat membuat pengelola
jaringan komputer lambat dalam mengantisipasi serangan yang sedang berjalan.
Oleh karena itu, selain melakukan implementasi teknologi pengamanan jaringan
komputer, perlu juga disediakan tools yang dapat digunakan pengelola dalam
melakukan pengelolaan.